Selangkah Hijrah

Posted on Sep 24, 2017 | 6 Comments
Selangkah Hijrah

Ada sebuah cerita dalam kitab Riyadush Shalihin yang amat berkesan bagi saya. Cerita tentang seorang pendosa yang telah membunuh banyak orang dan ingin bertobat. Saya tuliskan ulang kisahnya di sini sebaga pembuka cerita.

Dari Abu Sa`id Sa`ad bin Malik bin Sinan Al- Khudriy ra. Nabi SAW bersabda : “Sebelum kalian, ada seorang laki-laki membunuh 99 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk sekitar tentang seorang yang alim, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib. Setelah mendatanginya, ia menceritakan bahwa ia telah membunuh 99 orang, kemudian ia bertanya : “ Apakah ia bisa bertaubat?”. Ternyata Rahib  itu menjawab : “Tidak” Maka Rahib itupun dibunuh sehingga genaplah jumlahnya seratus.

Kemudian ia bertanya lagi tentang seorang yang paling alim di atas bumi ini. Ia ditunjukkan kepada seorang laki-laki alim. Setelah menghadap ia bercerita bahwa dirinya telah membunuh seratus jiwa, dan bertanya : “ Bisakah saya bertaubat?” Orang alim itu menjawab: “Ya, siapakah yang akan menghalangi orang bertaubat? Pergilah kamu ke kota ini (menunjukkan ciri-ciri kota yang dimaksud) sebab di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah Ta`ala. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan kembali ke kotamu. Karena kotamu kota yang jelek!”

Lelaki itupun berangkat, ketika menempuh separuh perjalanan maut menghampirinya. Kemudian timbullah perselisihan antara malaikat Rahmat dengan malaikat Azab, siapakah yang lebih berhak membawa rohnya. Malaikat Rahmat beralasan bahwa : “Orang ini datang dalam keadaan bertaubat, lagi pula menghadapkan hatinya kepada Allah.” Sedangkan malaikat Azab (bertugas menyiksa hamba Allah yang berdosa) beralasan: “Orang ini tidak pernah melakukan amal baik.” Kemudian Allah SWT. mengutus malaikat yang menyerupai manusia mendatangi keduanya untuk menyelesaikan masalah itu dan berkata: “ Ukurlah jarak kota tempat ia meninggal antara kota asal dan kota tujuan, Manakah lebih dekat, maka itulah bagiannya.”

Para malaikat itu lalu mengukur, ternyata mereka mendapati si pembunuh meninggal dekat kota tujuan, maka malaikat Rahmatlah yang berhak membawa roh orang tersebut.” ( H.R Bukhari dan Muslim ). 

(Dalam riwayat lain di sebutkan bahwa Allah Ta`ala memerintahkan kepada daerah hitam itu untuk menjauh dan memerintahkan kepada daerah yang baik itu untuk mendekat kemudian menyuruh kedua malaikat itu mengukurnya, akhirnya mereka mendapakan daerah yang baik itu sejengkal lebih dekat sehingga ia diampuni. Wallahualam)

 

Saya merasakan suasana hati saya hening ketika pertama kali membaca kisah itu.

Dan airmata saya yang jatuh seperti memecahkan kesunyian.

Mungkin ada kelegaan mendengar seorang pendosa yang taubatnya diterima

Mungkin ada sesak ketika tahu ia tak bisa sampai di tempat tujuannya.

Mungkin ada rasa malu, diperlihatkan betapa Maha Baiknya Allah selalu membuka pintu ampunan lebar-lebar dan menyambut setiap jiwa yang menyadari khilafnya yang sebesar gunung dan mau memperbaiki diri untuk mendekat dengan-Nya.

Mungkin juga ada perasaan takut yang hinggap, bagaimana jika nasib saya kelak meninggalkan dunia dalam keadaan belum menjadi orang baik? Bekal apa yang saya punya untuk perjalanan terpanjang di akhirat nanti? Naudzubillahmindzalik.

Hijrah

Satu kata yang sungguh membuat saya sering termenung dan berdesir. Kata yang singkat namun membuat ingatan setiap orang yang pernah melewati titik  itu, seperti dibawa terbang ke masa-masa ketika dia memulai segalanya dengan harapan baru. Harapan agar setiap langkahnya bisa dipenuhi cahaya Allah yang lebih terang dari hari ke hari.

Setiap orang punya titik hijrahnya sendiri. Seringkali mata manusia hanya mampu menangkap bahwa seseorang tengah dibenturkan dengan masalah besar. Padahal sebenarnya benturan atau kesulitan yang tampak karena urusan dunia hanyalah tampilan dipermukaan. Karena ketika kita dibenturkan pada musibah kondisi sempitnya hati. Buntunya solusi. Dan teman-teman melangkah pergi. Di titik itulah, bisa jadi Allah tengah memaksa kita untuk melihat langsung kehadiran-Nya lebih dekat.

Teringat sebuah kalimat Imam Asy-Syafi’i “Kalau manusia menghindar darimu di kala engkau mendapatkan musibah, maka ketahuilah bahwa Allah hendak mengurus urusanmu sendiri. Allah sendiri yang hendak mengurus urusanmu. Dan cukuplah Allah Subhana Wataala sebaik-baik yang kita jadikan sandaran.”

Dan saya menyaksikan sendiri bagaimana berwarnanya titik hijrah setiap orang. Ada orang yang hijrah dari fakirnya ilmu agama, meninggalkan satu keburukan dan beralih pada satu kebaikan, yang biasa berbohong jadi menjaga kejujuran, yang semula tidak shalat jadi mulai menegakkan shalat 5 waktu, yang biasanya mengabaikan shalat sunnah jadi mulai mengerjakannya, yang semula Al-Qur’an hanya menjadi pajangan mulai membuka dan membacanya lagi, yang sudah biasa membaca Al-quran lalu ia memperbaiki bacaannya dan mulai tertarik mengkajinya. Yang mungkin abai pada orangtua dan mertuanya, kini menjadi lebih peduli dan berbakti. Yang sebelumnya kurang berkhidmat pada suami jadi lebih taat, yang sebelumnya merawat dan mendidik anak dengan ilmu seadanya sekarang merasa bertanggung jawab dan butuh untuk memperdalam ilmu. Yang tidak berjilbab jadi mulai menutup auratnya, yang sudah berjilbab semakin memperbaiki diri menyesuaikan dengan ketentuan syar’i.

Sungguh saya beryukur Allah jadikan mata ini menjadi saksi perjalanan hijrah teman-teman yang meninggalkan celana legging, jeans ke celana yang lebih kulot yang longgar lalu beralih gamis yang mungkin tampak jauh dari kata modis. Saya tersentuh melihat teman-teman yang semula jilbabnya hanya sekedar menutup kepala, lalu sekarang terulur panjang sampai menutup dada. Tidak sedikit orang yang tiba-tiba menghilang dari lingkungannya yang gemerlap dan ternyata tengah sibuk membuat amal shalehnya agar semakin mengkilap.

Titik hijrahnya buat para lelaki mungkin bisa jadi sesederhana yang semula hanya shalat di rumah, jadi merasa terpanggil dan merasa berjamaah ke masjid adalah sebuah kebutuhan. Ada kebutuhan yang meningkat untuk membuat ketenangan hati melalui datang ke kajian-kajian Islam. Baik dari kajian yang tersebar di media online maupun datang langsung kajian yang tersebar di lingkungannya. Bahkan tak jarang ilmu dikejar dari timur sampai ke barat, dari selatan sampai ke utara.  Ada sumber yang dicari selain solusi manusia, tapi solusi Allah yang sudah diatur dalam Al-Quran dan hadist.

Mengutip Ustadz Adi Hidayat, “Hijrah itu bukan masuk organisasi atau kelompok, juga bukan mengganti penampilan saja. Kalau Anda mulai berhijrah, maka mulailah dengan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah. Tinggalkan yang buruk, muncul yang baiknya.” …

Saat yang lain ramai membicarakan kejelekan seseorang kemudian mulut yang biasanya ikut bicara lalu ternyata memilih diam, itu juga sebuah upaya hijrah. Menghindari dan meninggalkan ghibah. Menahan diri untuk tidak berkomentar nyinyir dan lebih memilih banyak berdzikir. Merasa perlu untuk banyak berdoa dan menghapalnya. Aktivitasnya dalam 24 jam dilakukan dengan segala doa. Memulai tidur dan bangun dengan berdoa, masuk dan keluar kamar mandi dengan membaca doa, masuk dan keluar rumah dengan doa. Perubahan kecil yang mungkin tidak akan terlalu terasa tapi punya efek yang besar untuk diri sendiri. Ada index keshalehan yang bergerak naik. Keshalehan individu yang pada akhirnya akan berdampak pada keshalehan sosial.

Pada akhirnya, hijrah kecil itu akan membesar dan mengubah tujuan hidup seseorang. yang semula mengumpulkan bekal hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan dunia, jadi bersemangat mencari bekal untuk akhirat. Mau bersusah payah mencari yang halal dan  menghindari yang haram. Pada level yang lebih kompleks, hijrah besar itu berusaha keras keluar dari jeratan dan transaksi yang mengandung Riba. Peduli pada sumber-sumber rezeki. Perniagaan bukan hanya mencari untung semata tapi keberkahan.

Saya teringat sebuah bahasan tentang Hijrah. Hijrah adalah cara Rasulullah untuk melepaskan diri dari alam kebatilan, kondisi dimana manusia tidak hidup dengan kitab Allah. Hijrah muncul dan dilakukan dengan dorongan iman. Iman itu diikrarkan dengan lisan, direnungkan dalam hati, dan diamalkan dengan perbuatan. Meninggalkan segala bentuk kehidupan yang tidak berlandaskan pada kitab Allah, sungguh bukan perkara ringan. Bisa jadi tantangannya ada pada diri sendiri, tapi bisa jadi juga tantangannya ada pada lingkungan, tradisi dan budaya.

Dalam Al-quran, siapapun yang beramal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, yang selama dilakukan karena Allah, maka Allah akan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik lagi. Dan ciri pertama kebaikan, yang menjadi nilai kebaikan di mata Allah dan Rasul-Nya ternyata bukan meningkatnya harta, bukan bertambahnya kedudukan, maka Allah akan pahamkan ia akan urusan ilmu agama..

Saya masih jauh dari soal paham tentang ilmu agama. Tapi saya berdoa agar dimampukan untuk terus menambah ketertinggalan saya soal ilmu agama untuk bekal mendidik anak saya, dan minimal untuk bekal saya agar bisa berilmu sebelum beramal.

Mungkin saya termasuk beruntung, tinggal di kawasan yang masjid-masjidnya ramai dengan kajian Islam. Hampir semua masjid di sekitar bintaro dan Jakarta selatan punya banyak kajian-kajian dengan tema yang beragam, menarik, sumbernya jelas, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan mana kajian yang ingin didatangi. Belum lagi orang-orang yang sedang punya ghirah yang tinggi untuk mereguk ilmu, mereka seringkali menjemput ilmu dengan mendatangkan guru-guru untuk belajar bersama.

Rasanya malu melihat langkah-langkah para pengunjung masjid. Masjid yang dipenuhi jamaah pada jam shalat, itu hal biasa. Tapi masjid yang ramai pada saat jam shalat Dhuha dan di luar jam shalat 5 waktu baik weekdays maupun weekend adalah hal yang luar biasa. Para pencari ilmu. Para pecinta kajian. Mereka yang mungkin jejaknya jarang ditemukan di sosial media karena menjaga langkahnya yang diam-diam. Diam-diam berusaha mengubah dirinya ke arah yang lebih baik.

IMG_20170605_173658

Kisah Pembangkit Ghirah Ibadah

Sekali lagi. Setiap orang punya kisah hijrahnya sendiri. Tapi izinkan saya berbagi cerita kisah hijrah yang pernah mampir di telinga saya dalam beberapa waktu terakhir. Kisah itu mungkin milik orang yang saya kenal langsung maupun tidak langsung. Yang jelas, bagi saya cerita mereka juga layak untuk menjadi sebuah cerita pembangkit ghirah agar ibadah kita semakin bergairah.

Alkisah ada seorang kepala keluarga yang mengundurkan diri dari sebuah pekerjaan yang bergengsi di industri pertambangan, karena pekerjaannya suatu hari membenturkannya untuk membuat laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan.  Dalam tenggat waktu yang tidak sebentar, ia harus bersabar menunggu panggilan kerja baru. Sayang kondisi ekonomi dan politik sedang tidak stabil, banyak perusahaan yang justru merumahkan pegawainya dan bahkan sangat jarang merekrut pegawai baru. Sambil menunggu, ia bersama istrinya banyak membantu mengurus kajian sebuah masjid. Mereka dengan santai menyebut profesi barunya itu sebagai ‘Asbot’ alias Asisten Marbot (istilah untuk penjaga masjid). Mereka membantu menghubungkan dan mengatur jadwal para guru agar bisa hadir di majelis ilmu, menyebarkan informasi kajian kepada khalayak ramai, merekam kajian agar bisa menjadi dokumentasi dan dibagi kepada jamaah yang tidak hadir, serta berbagai aktivitas dakwah yang jarang terlihat dari mata orang banyak. Ada tangan-tangan yang bekerja tersembunyi dibalik meriahnya kajian sebuah masjid. Dalam pandangan manusia, bisa jadi banyak yang memandang prihatin kehidupannya sebagai ‘asisten marbot’ karena dinilai sebagai sebuah ‘penurunan’. Tapi dalam pandangan Allah, bisa jadi orang ini mulia karena semua yang dilakukannya adalah mengharap keberkahan waktu dari Allah.

Sementara itu ada orang di belahan kota lain ada orang yang sibuk ingin membersihkan hartanya. Ia lalu berniat menjual asset sebuah rumah warisan dari orangtunya demi melunasi segala bentuk pinjaman yang berhubungan dengan bunga bank. Setelah setahun lebih tidak ada kabar gembira, orang ini lalu tanpa sengaja bertemu dengan seseorang yang menjadi perantara (makelar) terjualnya rumah warisan melalui si makelar ini. Dengan terjualnya rumah warisan itu, maka selesailah urusan yang berhubungan dengan pinjaman riba, semua urusan perbankannya sudah tuntas. Tak ada yang ia harapkan selain keberkahan harta. Besarnya rasa syukur atas pertolongan Allah itu membuatnya merasa lebih khusyuk beribadah dan terus bersemangat melakukan kebaikan lebih besar.

Cerita berlanjut. Setelah urusannya kelar, saat itu juga ia mendaftar haji bersama suaminya. Dengan kondisi lapang rezeki, ia ingin membayar kontan perjalanan haji yang menjadi perjalanan dambaan seorang muslim. Namun, meski saat itu ia mampu untuk melunasinya, prosedur haji tidak memperbolehkan calon jamaah haji untuk melunasinya langsung. Karena antrian yang panjang, pelunasan hanya bisa dilakukan jika kuota sudah dipastikan bisa berangkat. Uang pelunasan dana hajinya itu terpaksa harus ia simpan. Saat itulah ia teringat bahwa si makelar penjual rumahnya itu tengah tertatih hijrah. Si perantara ini bukan tanpa masalah, ia tengah berniat menutup semua kartu kredit setelah tahu beratnya azab Allah tentang Riba. Penggunaan yang salah dan dibenturkan dengan kondisi sumber rezeki yang tertahan dan membuat tagihan itu macet dan bunga membengkak. Kehidupan saat itu seperti sebuah dunia gelap yang tidak ada titik terang. Siapapun yang berakal akan ngeri dan bergidik mengetahui bahaya dan azab Allah akibat Riba. Baca di sini untuk lebih jelasnya.  

Tapi sungguh Allah adalah sebaik-baik pemberi jalan keluar bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan mendekat.

“Apabila seorang hamba mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan apabila ia mendekat pada-Ku sehasta, maka aku mendekat kepadanya sedepa. Apabila hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka aku mendatanginya dengan berlari kecil.: (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Allah seolah menampakkan bahwa Dia tengah berlari menghampiri si makelar yang sudah tersungkur pasrah. Utang riba ratusan juta itu terputus atas kehendak Allah. Allah berikan pertolongan melalui si empunya tabungan haji itu. Dengan kebesaran hati dan mengharap balasan hanya dari Allah, tabungan untuk pelunasan haji itu lalu berubah fungsi. Ia bukan lagi tabungan dunia biasa. Dana yang seharusnya hanya duduk manis dalam tabungan itu menjadi dana yang mengalirkan pahala berlipat karena pemiliknya memilih untuk meminjamkan uangnya sampai nanti tiba waktunya dibutuhkan.  Sungguh langka menemukan orang yang mau menjadi jalan keluar saudara seperjuangan hijrahnya untuk terputusnya utang Riba. Dan semua itu terjadi berkat campur tangan Allah. Masya Allah..

Saya tergugu mendengar kisah nyata itu. Rasanya seperti baru saja mengiris dua kilogram bawang Bombay yang membuat mata saya berair terus. Lihatlah, bagaimana indahnya Allah mengurai semua perkara manusia. Dia memberi bantuan dari jalur yang di luar akal manusia. Ketika semua jalan dari mata manusia tampak sudah tertutup, ternyata ada jalan lain yang tidak diduga. Belakangan saya ketahui, sekilas hubungan kedua orang ini seperti seorang sahabat lama. Tapi ternyata mereka baru kenal setahun terakhir dan sering bertemu dalam sebuah kajian di majelis ilmu. Lihatlah betapa kualitas hubungan batin manusia tercipta bukan atas durasi waktu, tapi atas rasa saling menyayangi dan menjaga karena Allah.

Allah memberi pertolongan mencabut perkara ribanya. Bukan menghilangkan langsung semua utangnya, tapi mengalihkan bentuk pinjaman utangnya. Semata agar orang ini diperlihatkan kebesaran Allah dalam mengijabah doa-doa, mencatat niat hijrahnya, dan agar bisa beribadah lebih baik lagi sehingga Allah mudahkan urusan selanjutnya.. Wallahualam

Tentu masih banyak petikan usaha hijrah lainnya yang terserak di sekitar kita. Banyak juga kisah orang-orang yang telah hijrah dari perkara Riba lalu diam-diam menjadi ‘malaikat’ kepanjangan tangan Allah untuk membantu temannya yang lain agar terlepas dari Riba. Seolah mereka ingin ikut menjaga dan ingin membersamai perjalanan hijrah para sahabatnya. Bukan satu dua kali saya mendengar kebaikan orang-orang semacam ini. Semua kisah nyata yang saya lihat dan dengar langsung dengan kedua mata dan telinga saya. Orang-orang yang saya kagumi dalam menjaga niat hijrah dan amal shalehnya. Mungkin sosok mereka tidak terlalu ‘dikenal’ di dunia, apalagi dunia maya. Tapi rasanya mereka terkenal oleh penduduk langit.

Apapun kisah dan cara hijrah yang beragam tapi semua niat dan usaha yang dilakukan punya satu  tujuan yang sama, mencari Ridha dan keberkahan hidup dari Allah. Memantaskan diri untuk mendapat perhatian dari Allah. Karena memang hijrah itu mengubah keadaan jadi lebih dekat dengan Allah dan semakin baik dalam pandangan-Nya. Dan orang yang makin baik dalam pandangan-Nya itu kerap kali membuat Allah suka menunjukkan rasa sayang-Nya. Semua rasa kehilangan diganti dengan yang lebih baik. Semua yang tampak rumit menjadi mudah. Apa yang selama ini runyam menjadi cerah. Pandangan yang tampak gelap menjadi terang. Hati yang selalu gelisah menjadi tenang. Keluarga yang harmonis, pekerjaan yang tentram, waktu yang diisi dengan aktivitas lebih bermanfaat, teman-teman yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Apakah semua rezeki itu datang dengan sendirinya? Pasti karena kasih sayang Ar-Rahman. Fabiayyi alaa irabbikuma tukadzibaan .. 

Setulus hati saya mendoakan, untuk siapapun yang tengah berjuang melangkahkan kaki di atas niat hijrahnya, semoga Allah angkat kesulitan dan mudahkan segala urusannya. Juga Allah selalu menjaga niatnya ya, Aamiin ya Rabb ya Mujibassailin.

 

Selamat Tahun Baru 1439 H

Semoga diringankan langkahnya untuk berhijrah dalam hal apapun

Selangkah hijrah untuk menggenggam lebih banyak berkah =)

 

 

Catatan kecil :

- Saya masih fakir ilmu, namun terbantu dengan catatan ilmu yang ditebarkan oleh para Guru. Beberapa penjelasan tentang Hijrah dan elaborasinya serta kutipan hadistnya saya ambil dari kajian para Gurunda  Ustadz Doddy Al-Jambary , Ustadz Adi Hidayat , Ustadz Salim Fillah , Ustadz Akmal SjafrilUstadz Bendri Jaisyurahman, ustadz Fatih Karim, Ustadz Khalid Basalamah.  

Jazakumullah khairan, semoga ilmunya menjadi amal shaleh dan para guru ini selalu diberikan kesehatan dan umur panjang agar bisa terus berbagi ilmu syar’i.

 

-  Kisah yang saya ceritakan bukan rekaan, melainkan kisah nyata berdasarkan pengalaman saya melihat dan mendengar secara pribadi kisah-kisah hijrah yang inspiratif di sekitar saya.  Semoga saya terhindar dari penyakit hati dan bisa tetap menjaga niat teman-teman dalam berhijrah.

Salam Takzim. 

- Adenita-

6 Comments

  1. Lia
    September 25, 2017

    Masya Allah, barakallah mbak ade, suka dengan tulisannya. Perasaan yang sama saya rasakan dua tahun lalu. I feel you.

    Koment pertama setelah sekian lama jadi pembaca setia blog ini. Salam kenal :)

    Reply
    • Adenita
      September 25, 2017

      Masya Allah.. salam kenal juga, terima kasih mbak Lia sudah jadi pembaca setia :’) semoga perasaan dua tahun lalu itu selalu terjaga ya :*

      Reply
  2. Dini Anggiani
    September 28, 2017

    Selalu senang baca tulisan teh ade, udahnya selalu ada “nyesss” dalam hati :)
    Tks teh ade sharingnya, ditunggu tulisan bergizi lainnya :)

    Reply
    • Adenita
      October 2, 2017

      Masya Allah, kalau ada yang nyess di hati pasti itu karena sentuhan sang’Pemilik Hati’. Terima kasih mbak Dini.. =)

      Reply
  3. heny eka
    September 28, 2017

    Assalamu’alaikum….

    Mba Ade salam kenal…. Udh lama sbenernyaa jd silent reader mbaa di instagram xixixi…

    Makasiii byk ats tulisannyaa bikin sayaa terharu hiks.. :)

    Reply
    • Adenita
      October 2, 2017

      Wallaikumussalam.. salam kenal juga mbak Heny, yah koq silent reader sih, dicolek nggak apa-apa koq mbak di IG, hehe trmksh sudah baca ya mbak =)

      Reply

Leave a Reply