Cerita 6 Bulan Lalu

Posted on Mar 21, 2017 | 2 Comments
Cerita 6 Bulan Lalu

Kangeeeeeeen banget sama blog ini!

Merindu buat cerita macam-macam tapi tahun lalu selalu tertunda banyak urusan. Awal tahun ini banyak mengurangi kegiatan dan urusan di luar, waktunya bisa dipakai menata lagi kebiasaan menulis yang lama ditinggalkan. Tapi meski begitu, masih juga belum terpancing buat balik buka blog. Duh, ya!

Setelah ditelusuri lagi, ternyata ketahuan deh.. yang bikin jadi malas dan macet menulis blog (lagi) adalah karena ada cerita yang nggak tuntas. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah kata kunci, yang paling bikin macet adalah karena saya punya utang mau nulis cerita sambungan perjalanan waktu  ke UK kemarin. Tiap ada niat mau nulis sesuatu, selalu ada alasan menunda, “nanti habis melanjutkan cerita perjalanan ke Autumn Fair” .. dan kalimat itu diulang sampai akhirnya nggak ada satupun yang ditulis, gubrak!Rrrrrr…

Dan biasanya tiap mau menulis dan menuntaskan cerita, fokusnya mulai hilang saat saya mulai pilih-pilih foto. Parahnya, semua foto di UK dari sudut manapun sangat fotogenic, lalu akhirnya bukan milih foto malah #throwback nggak kelar-kelar, hahaha.. payah deh ah! :D

Kali ini bertekad, jangan sampai lolos lagi deh nih ya posting cerita baru di blog. Niat semula mau cerita detail, tapi ya sudahlah ya seingetnya aja :D. Pilih foto yang paling cepat diketemukan aja, edit resolusi dan cemplungin ke sini, yang penting ceritanya tamat  haha..

Mari kita tuntaskan dengan cepat cerita 6 bulan lalu!

Hari terakhir Autumn Fair, Yeay!

Hari terakhir Autumn Fair, Yeay! Ini yang punya blog nggak ada, soalnya dia yang jepret haha..

Perjalanan hampir 10 hari bareng Nina bulan September 2016 lalu pastinya banyak menyimpan cerita.  Cerita bagaimana senangnya ketika akhirnya kami berdua bisa sampai di UK atas nama Emeno ada di sini, berbagai ketegangan dari mulai mau berangkat atau nggak, lalu berangkat sendiri atau nggak sama sekali, drama mencari sponsor sampai akhirnya buka Fund Raising dari para sahabat dan customer Emeno demi bisa memenuhi undangan pameran ini. Semua itu pernah diceritakan di sini.

Cerita keseruan berjalan kaki jauh dan menggotong koper naik bis, dorong-dorong koper bawaan ke hall NEC Birmingham dengan roda koper yang mendadak macet, dan  momen-momen yang membuat kami tertawa-tawa saat menyadari banyak kedodolan bersama ada cuplikannya di sini. Kadang saya sok tahu jalan karena merasa tahun lalu sempat melewati beberapa jalan utama di Birmingham . Kedodolan banyak kejadian diperparah dengan kebiasaan pelupa saya dan Nina yang 11-12 banget *tutup muka.. hahhaa

 Jadi saat hari kedua di Birmingham dan dalam persiapan mau briefing dan dekorasi booth, kami merasa semua perlengkapan sudah siap diangkut. Ketika sudah jauh dari rumah dan mau berganti bis, Nina baru menyadari bahwa wall paper yang akan dipakai dekor ketinggalan, dan saat itu jaraknya sudah setengah jalan,  Gubrak! Akhirnya karena dikejar waktu, Nina balik lagi ke rumah diri dan saya meneruskan perjalanan bawa koper sendiri ke tempat pameran. Itu baru pembukaan, sisanya kayanya banyak didominasi oleh kedodolan saya deh hahaha..

Enam bulan berlalu, banyak banget kejadian yang saat diingat sekarang malah lucu, padahal saat kejadian itu menyebalkan banget. Saya paling sering ketinggalan barang di dalam booth menjelang pulang, mulai dari hari pertama ketinggalan mantel, hari kedua ketinggalan laptop, hari ketiga ketinggalan sepatu yang membuat saya harus lari-larian balik lagi sebelum hall ditutup. Dan hebatnya tiap saya balik itu ketemu sama satpam yang super galak yang dia sampe geleng-geleng kepala melihat wajah saya tiap sore minta izin masuk (lagi) ke dalam. Karena izin masuk kembali ke dalam setelah pameran usai itu sangat ketat sekali. Bahkan saya pun pernah nggak diizinkan masuk ke dalam lagi. Jadi dari jauh ketika melihat si satpam ini saya sampai jedag-jedug  melihat tampangnya.. hiiiiiiyyy! Mungkin dalam hatinya, dia juga sebal kali ya lihat orang separah saya ini hahahaha..

Masih ingat banget setiap hari selama di Birmingham harus bangun jam 03.30 buat memulai segala persiapan berangkat jaga pameran di Autumn Fair.  Mulai dari persiapan barang apa saja yang akan dibawa, cuci dan jemur baju, posting sosmed, ngecek kondisi workshop di Jakarta, cek keluarga, bikin sarapan dan baru berangkat. Itu semua dilakukan selama 6 hari dan akhirnya kami bisa agak bernafas lega ketika semuanya usai. Dari Birmingham kami lanjut mampir ke London selama 3 hari dan kembali ke Birmingham (karena tiket pulang kami dari sini).

Di kereta Birmingham menuju London. Menyiapkan presentasi sambil jagain Nyonyah lagi  bobo cantik

Jagain Nyonyah lagi bobo cantik

Hello (again), London!

Hello (again), London!

Dalam waktu yang harusnya digunakan untuk istirahat, kami punya sejumlah rencana yang lumayan padat demi memanfaatkan waktu yang tersisa. Dari mulai agenda resmi Morning Coffee bersama ibu-ibu Dharma Wanita KBRI London sampai acara beli barang buat dijual hihi..

Iya, jadi salah satu strategi buat bertahan hidup yang kami jabanin adalah kami berdua buka PO barang-barang UK yang dibeli saat kami ke Bicester Village. Pengalaman jadi personal shopper, lumayan lah ya buat nambah bayar tiket Tube haha..

Bicester Village. Surga belanja (kalau punya banyak poundsterling haha.. )

Bicester Village. Surga belanja (kalau punya banyak poundsterling haha.. )

Pengalaman pertama jadi personal shopper yang profesional :D

Pengalaman pertama jadi personal shopper yang profesional :D

Ada saja cerita yang nggak biasa. Selama di sana, tiba-tiba saya kehilangan selera makan sandwich dan sejenisnya, jadi tiap kali mau makan koq ya rasanya mual dan malas makan sekali. Saya sampai harus membayangkan dulu mau makan apa agar timbul selera. Garuk-garuk kepala deh dengan kehilangan nafsu makan ini dan jadinya beneran hanya mau makan yang bernuansa asia   Beda sekali dengan tahun sebelumnya yang semua serba dibeli, dimakan dan dicoba, entah kenapa kali itu saya agak picky eater, padahal di Jakarta nggak pernah ada cerita kaya gini, semua selalu dilahap selagi halal dan thayib. Sementara itu Nina mah nggak ada masalah makan, doi selalu semangat banget beli Sandwich Subway, secara ya dia memang lidah eropa :D

Nggak  cuma senang-senangnya aja, saya dan Nina juga mengalami hal-hal yang bikin kami berdua nggak enak. Tiba-tiba barang yang Nina beli di Bicester Village hilang (semoga diberi ganti yang lebih baik ya, Buns), terus ada pengalaman nggak enak sama salah satu host family tempat kami menginap di London.  Kondisi cuaca dan waktu yang rasanya berjalan serba cepat sekali. Kondisi lelah, banyak yang harus dipikirkan, perubahan waktu, tenggat waktu kerja, semua bikin dramatis. Yah namanya juga dua kepala, dua kepribadian, dua orang yang punya prinsip hidup beda. Selama ini sering jalan bareng tapi nggak pernah tinggal bareng. Kelihatan langsung deh kebiasaan-kebiasaan yang mungkin satu sama lain harus adaptasi, kebiasaan makan dan nilai hidup yang beda, dalam 10 hari itu mau nggak mau dan suka nggak suka harus melebur demi satu kepentingan.

UK6 Oiya, kami juga sering banget mepet jadwal sampai stasiun dan kadang ketinggalan jadwal kereta, estimasi waktu yang salah  dan ada-ada aja alasan lainnya yang suka muncul. Duh, iya ini mohon dimaafkan  ya.. kebiasaan buruk ini bukan mewakili satu golongan tertentu, tapi ini mah saya aja yang kurang oke manajemen waktunya, huhu.. Dan dari cerita ketinggalan jadwal yang ada, yang paling drama adalah pengalaman ketinggalan PESAWAT!Huaaaaaaa… ini menceritakan ulangnya aja sampai terasa bagaimana deg-degannya hari itu.

Jadi hari terakhir di sana saya nggak bisa tidur banget, saya dan Nina sibuk mengemas barang-barang, sampai jelang mau waktunya pergi saya malah mengantuk dan ketiduran sebentar. Lalu kami berangkat mepet waktu. Daaan.. kami terpaksa packing ulang di bandara. Sampai Bandara Birmingham, baik saya dan Nina masing-masing mengalami kendala yang membuat proses bagasi makan waktu 2 kali lipat padahal sudah dibilang bahwa kami harus boarding, mereka tampak ingin mendahulukan tapi ada antrian panjang dan tetap saja semua diperiksa detail dan waktunya terus berlari. Nina tertahan karena harus negosiasi alot soal bawa asi perah. Saya ketahan karena ada parfume dan snowball yang berisi air (yang padahal kurang dari 100ml) dalam tas saya.

Selesai check in kami berlari sekuat tenaga dengan bawaan cabin yang lumayan. Tersenggal-senggal dan sampailah kami di gate keberangkatan pesawat KLM menuju Amsterdam. Gate CLOSED! Pesawatnya terlihat di depan mata dan belalainya masih ada. Histeris banget lihatnya! Kami menjelaskan secepat mungkin kondisi yang terjadi dan negosiasi kedua pramugari belanda yang sedang bertugas dan berdoa penuh harap agar mereka iba pada kami . Tapi sia-sia. Pesawat di depan mata itu seperti melambai angkuh.

Saya dan Nina lalu diminta lapor dulu buat ambil bagasi ulang.

Lunglai dan lemas..

Berita buruk banget yang nggak sanggup mengabarkan ke keluarga di Jakarta. Berita baiknya , kami sebenarnya hanya ketinggalan pesawat ke Amsterdam, karena setelah itu kami harus transit 6 jam dan menyambung pesawat berikutnya ke Indonesia. Hening. Kami berdua jalan menuju front desk. Saya dan Nina deg-degan banget nggak dapat pesawat sesuai waktu yang dibutuhkan, apalagi mengingat harus membeli ulang tiket pesawat ke Amasterdam untuk melanjutkan penerbangan ke Indonesia. Duh, pokoknya secepat mungkin menyiapkan mental dan harus mengais-ngais sisa uang yang ada.

Kami berpikir keras untuk bisa mendapatkan pesawat dengan jadwal penerbangan terdekat ke Amsterdam. Tangan saya dan Nina nggak berhenti memegang apps jadwal penerbangan pagi itu. Kalau sampai nggak ngejar pesawat ke Amsterdam, maka tamatlah riwayat kami harus beli tiket baru sampai Indonesia, mules membayangkannya!

Setelah digiring ke counter KLM, kami berdua dengan lemas menceritakan apa yang terjadi. Kami diminta untuk mengambil bagasi dan harus check in ulang. Mereka memberi tahu bahwa ada penerbangan terdekat 1 jam lagi, sambil saya bolak-balik lihat harga tiket. Saat itu sudah tutup mata nggak peduli sampai Jakarta kere banget yang penting harus bisa mengejar pesawat ke Indonesia (Duh, jangan sampai mengalami kejadian buruk kaya kami ini ya..)

Setelah semua urusan bagasi beres, ternyata si orang admin KLM itu bilang bahwa kami dapat pesawat berikutnya dan.. kami tidak perlu membayar tiket lagi alias GRATIS! Tangis saya dan Nina pecah dan kami berpelukan kencaaaaaaaang sekali. Si admin ngebathin kali ya, nih ibuk-ibuk lebay banget sih.. haha

21

Berhasil sampai Amsterdam dan mengejar pesawat ke Indonesia, yeay!

Tapiiii … itu asli suasana paling haru biru banget yang memecahkan ketegangan kepala kami yang sepertinya mulai berasap. Entah berapa kali kami bilang terima kasih sama si admin yang bernama Natalie itu, dan terakhir saking saya nggak kuatnya saya lari peluk dia erat-erat. Dengan penuh senyum dan keibuan dia bilang, don’t worry sweety.. catch your flight soon, dear! Seketika saya dan Nina seperti mendapat energi yang besar dan lari sekuat-kuatnya. Melewati lagi pemeriksaan bagasi yang sama. Bermasalah lagi asipnya karena kali ini  petugasnya sudah beda lagi. Rrrrr.. gemas! Sementara itu, panggilan sudah mulai terdengar.. ketar-ketir banget deh sampai akhirnya Nina berhasil lolos lebih dulu dan akhinya kami ada di gate yang dituju bersama. Barulah kami bisa berjalan pelan menuju pesawat dengan tenaga tersisa..

Ada yang menetes dari mata saya. Ada rasa kesal, kecewa, sedih, gemas dan bersyukur bercampur jadi satu. Saya nggak mau menyalahkan siapapun untuk kejadian yang saya alami kecuali diri saya sendiri dan berjanji dengan keras pada diri sendiri supaya kejadian ini nggak terulang lagi.  Nggak mudah memperbaiki manajemen waktu, apalagi di negeri orang. Tapi pasti bisa! Ada rasa sedih meninggalkan Birmingham. Banyak pelajaran hidup berharga, tentang (lebih) menghargai waktu, dispilin, bekerjasama, beradaptasi, empati, menunggu, bersabar, tapi yang terpenting adalah perjalanan ini juga mengajarkan sebuah impian. Banyak kesalahan yang terjadi tapi banyak juga rezeki yang diterima. Tali Silaturahmi yang terbuka lebar. Bagaimanapun saya sangat bersyukur bisa kembali ke Inggris dan kali ini bersama Nina. Saya yang buta soal urusan fashion ini banyak belajar dari Nina dan segala hal yang membuat saya melek soal industri dan produksi.

Saat itu juga saya merasa betapa Allah itu Maha Baik dan selalu memberi pertolongan saat saya butuhkan. Ada rasa bersyukur banget bisa mengejar pesawat ke Amsterdam tanpa harus membeli tiket lagi. Belakangan saya tahu , sepertinya itu komplimen karena pengurusan bagasi yang lama dalam kurun waktu boarding. Wallahualam..

Dengan segala cerita yang ada, perjalananan kali ini mengajarkan saya bagaimana harus menghadapi dan menyikapi hal-hal yang tidak saya sukai dan tidak sesuai dengan hati nurani, menurunkan ekspektasi dan berpikir (lebih) realistis. Jauh dari rumah membuat banyak berpikir dan mereview apa saja perbaikan yang harus saya lakukan saat kembali nanti. Percakapan dengan diri sendiri saat dalam pesawat menuju tanah air sangat menyadarkan saya untuk kembali melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan, kekuatan dan keahlian saya. Melakukan hal kecil tapi menuntaskan dengan bahagia, daripada berambisi melakukan hal besar tapi tidak selesai..

Oiya, ketika akhirnya sempat mengunjungi London lagi, kami memutuskan mencoba City Tour London, biar agak kerasa turisnya, hahaha..  yang paling penting biar ada cerita manis yang dikenang dari perjalanan singkat kami, karena belum tentu kami bisa ke sini lagi berdua. Dan berkat komitmen Nina membawa tongsis kemanapun pergi, akhirnya jadi punya deh foto-foto berdua dengan ‘wall paper’ Westminster Abbey deh.. :)

Terima kasih kesempatannya buat Emeno yang telah membawa kami berdua ke sini, Britania Raya.. :’)

Thank you, Mate!

Thank you, Mate!

 

UK4

See you when i see you, London!

See you when i see you, London!

2 Comments

  1. Roswitha Jassin
    June 16, 2017

    Aku bacanya ikut deg-deg an dan terharuu banget terutama dibagian free tiket dan berpelukan ;”))

    Reply
    • Adenita
      July 3, 2017

      huhu iya mbak muless kalau inget momen itu :)) btw, terima kasih dimampirin sama ibuk blogger ;)

      Reply

Leave a Reply