Kekuatan Kolaborasi #Cerita dibalik Autumn Fair (1)

Posted on Sep 1, 2016 | 2 Comments
Kekuatan Kolaborasi #Cerita dibalik Autumn Fair (1)

Hello again my blog!

Gara-gara nunggu transit lama di Schipol, Amsterdam hari ini,  jadi ada waktu buat kembali menulis dan berbagi cerita di sini. Akhirnya ya, setelah setahun nggak nulis di blog! Dan lucunya, postingan terakhir masih seputar Emeno Goes to UK tahun 2015 lalu *nunduk malu.

Eh, tapi koq tiba-tiba ada di Schipol? Iya nih, impian masa muda banget (baca: zaman jadi mahasiswi) buat bisa belajar ke Belanda.Tapi hari ini ada di sini bukan karena mau sekolah, melainkan karena transit dalam perjalanan menuju Birmingham, UK.

Jadi, ceritanya perjalanan riset produk tahun lalu dari program Let’s Go Trade Shell Live Wire ternyata membuahkan hasil. Tiba-tiba ada email dari Atase Perdagangan KBRI London untuk Emeno mewakili UKM terpilih buat pameran di Autumn Fair Festival, Birmingham 2016. Baca emailnya saja sudah bahagia, Emeno sebagai usaha kecil yang masih berdarah-darah ini mendapat undangan untuk tampil di pameran internasional. Ada ruang bernama peluang. Ada kesempatan yang begitu sayang untuk dilewatkan. Email terus berbalas hingga akhirnya ada sebuah detail email yang membuat nyali ciut. KBRI hanya memfasilitasi booth pameran dan akomodasi dan transportasi harus ditanggung sendiri.  Pupus harapan.

Mau dilihat dari sudut apapun, kas UKM ini nggak akan mampu untuk memberangkatkan 1 orang, apalagi 2 orang. Karena yang namanya pameran, nggak mungkin segala persiapannya di lapangan sanggup dilakukan sendirian. Apalagi ini pameran perdana ke luar negeri. Mau berangkat pakai kocek pribadi saya dan Nina pun, itu sangat tidak mungkin. Kocek pejuang KPR itu pedih, Jendral! Haha..

Singkat cerita, ibu Atase perdagangan bolak/ik telp dari UK meminta kepastian keikutsertaan Emeno, karena kalau tidak maka slotnya akan dikasih pada UKM lain. Saya ceritakan apa adanya kondisi Emeno sambil mencoba melempar proposal ke beberapa perusahaan untuk mendukung keberangkatan UKM Emeno ini.  Tapi beliau malah menyarankan agar saya membuat visa saja terlebih dahulu. Besoknya ada email berisi visa calling dari KBRI London. Waktu berlanjut, ibu Atase Perdagangan mengabarkan bahwa nama Emeno sudah masuk dalam daftar tenant pameran. Sementara saya harap-harap cemas dengan kabar sponsor yang diulur dan tidak ada kepastian (dan akhirnya berujung pada permohonan maaf belum bisa mendukung). Pesan moral bagi yang kerja di bagian partnership/sponsorhip, kalau menolak janganlah kasih kabar mepet-mepet, karena selain bikin harapan palsu, juga bikin susah rencana orang .. =D *cross finger

Ada dua pilihan saat itu. Mengirimkan email kepada ibu Atdag KBRI London untuk mengundurkan diri, meski tentu bikin kepercayaan berkurang dan melewatkan kesempatan besar. Atau berusaha sampai titik akhir sampai kondisinya benar-benar nggak ada jalan? Berembuk sama Nina dan saya memilih yang kedua buat mengupayakan terlebih dulu dengan cara Fund Raising. Tapi kami berprinsip, untuk bukan sekedar meminta donasi, tapi setiap donasi akan kami tukar dengan produk Emeno. Ada nilai tukar dari setiap dukungan yang masuk.

 

Print

Meski Nina ragu, bagaimana kalau sampai tenggat waktu yang ada, Fund Raising juga nggak bisa memenuhi kebutuhan kami? Apakah uangnya dikembalikan? Lalu bilang apa sama pihak pengundang? Lalu bagaimana kalau berangkat ternyata peluangnya nggak sebanding dengan energi dan biaya yang telah dikeluarkan? Sebulan terakhir energi kami habis buat membahas semua itu. Perbedaan pendapat yang meruncing dan berbagai bentuk kepesimisan keluar.

Lucunya saya dikasih partner usaha yang jadi penyeimbang. Saya lebih spontanitas dan cenderung suka nekat ( Baca: Jalan dulu meski rencana belum matang tanpa banyak pertimbangan) =D , sementara Nina itu bagian yang suka ngerem dengan segala bentuk pertimbangannya. Kombinasi  ini kadang menarik tapi kadang bikin njlimet dan nggak jarang bikin situasi ‘panas’. Tapi di sanalah seninya, karena dalam hidup memang tidak selamanya pendapat kita benar dan akan disetujui oleh orang lain. Belajar menerima pendapat orang lain, menerima kepesimasan orang lain dan belajar untuk menerima ketidak sepakatan adalah bentuk pelajaran yang besar untuk memperbesar kapasitas diri dan hati.

Fund Raising Emeno Goes to Autumn Fair bergulir. Kami bergerilya mengirimkan kepada teman-teman, dosen, kerabat, keluarga dan beberapa orang yang potensial lainnya. Ada yang menyarankan untuk Fund Raising di Kitabisa.com, tadinya saya tertarik untuk mencoba tapi lalu urung karena ketika akan memposting, beberapa Fund Raising sebelumnya adalah orang-orang yang sedang mencari dana operasi dan penyembuhan cancer dan kasus-kasus kritis lainnya. Malu rasanya kalau harus ‘bersaing’ memperebutkan donasi bersama mereka yang dalam hal ini tentu lebih membutuhkan. Ada yang menyarankan juga untuk mengirimkan kepada kementrian terkait, tapi saya sadar diri, usaha kecil kami tidak terhubung dengan asosiasi manapun atau tidak pernah aktif dalam binaan kementrian perindustrian dan perdagangan atau kementrian terkait, tentulah bukan hal yang mudah dan bisa cepat untuk mendapatkan dukungan semacam ini.

Akhirnya Fund Raising difokuskan kepada para pelanggan setia dan rekan-rekan yang punya perhatian khusus pada pengembangan produk lokal dan punya jiwa nasionalisme yang tinggi dan sangat mengapresiasi karya-karya anak bangsa. Nilai Fund Raising juga kami pecah menjadi nilai terkecil dari angka di proposal sebelumnya yang kami berikan kepada perusahaan. Semangat mengumpulkan ‘receh-receh’dari para donatur. Banyak respon negatif tapi ada juga yang merespon positif, yah namanya juga usaha.

Hari demi hari angkanya bertambah namun tidak signifikan. Hingga 2 minggu jelang rencana keberangkatan, sepertinya kemampuan Emeno ditambah Fund Raising ini hanya mampu memberangkatkan  1 orang.  Perdebatan terjadi, siapa yang akan berangkat? Saya menunjuk Nina dengan alasan saya tahun lalu sudah berangkat, kali ini kesempatan Nina. Tapi Nina dihadapkan pada kondisi harus meninggalkan 2 anak dan mau pindahan rumah dengan segala kerempongannya. Kondisi ideal jika memang hanya mampu memberangkatkan satu orang memang sepertinya saya. Tapi jauh dalam lubuk hati dan pikiran, saya optimis bahwa saya dan Nina bisa berangkat bersama. Karena sejak awal saya mensetting harus berdua yang berangkat dan sampai detik itu nggak berubah. Saya masih optimis angka itu bisa merambat naik paling tidak sampai batas minimal.

Oh, perlu diingat. Kami harus bergelut dengan waktu, karena harga tiket yang terus merambat naik dan yang lebih bikin deg-degan adalah jadwal penerbangan yang kami butuhkan semuanya sudah penuh  bahkan sampai kelas bisnis. Duh, stress deh memikirkan bujet transportasi yang sedang ditekan justru malah melambung naik. Mau nggak mau saat itu saya terpaksa menyelamatkan sebuah tiket (lumayan) murah terlebih dahulu. Satu tiket di tangan, tapi kami tetap butuh satu tiket lagi sambil berstrategi biaya apalagi yang bisa ditekan sambil tetap memperjuangkan si fund raising.

Di minggu-minggu terakhir itu saya beranikan mengontak orang-orang yang sebelumnya tidak ada dalam daftar, bahkan ada beberapa nama yang bahkan tidak terpikir selama ini untuk dihubungi. Malu dan sungkan sempat terbersit. Saya tawarkan untuk ikut Fund Raising ini atau paling tidak mohon bantuan untuk meneruskan kabar Fund raising ini secara personal.  Di luar dugaan justru banyak respon positif dan ternyata ada banyak teman-teman yang kaget kenapa saya nggak dati kemarin kasih kabar.

Kalaupun ada yang sedang tidak berleluasa ikut fund raising, tapi ada yang membantu dengan cara-cara kreatif seperti menghubungkan kami dengan berbagai kemudahan yang ujungnya bisa menekan bujet keberangkatan kami.  Sampai akhirnya hasil Fund Raising ada di batas minimal dan tiket Nina terbeli meski kami harus berangkat di hari yang berbeda. Dengan demikian positif saya dan Nina akan berangkat berdua mewakili Emeno di pameran Autun Fair Festival. Ada syukur yang pecah, terharu deh!

Find the best nursing wear collections by Emeno1

Atas nama Emeno Nursing Wear, saya mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada pribadi-pribadi yang begitu dermawan untuk terlibat dalam Fund Raising Emeno Goes to Autumn Fair ini. Sungguh saya merasakan lebih dari sekedar dukungan tapi juga ada kepercayaan cinta yang begitu besar hingga mau menyisihkan rezekinya untuk mendukung sebuah produk dari usaha kecil bisa hadir di pasar Internasional.

Teringat kata-kata Ridwan Kamil, hidup adalah udunan. “Hidup adalah udunan bagi saya dalah solusi masa depan. Kita ada masalah. Tetapi kalau kita kolaborasi, menyumbang recehan atau besar, waktu, ide, gagasan , solusi itu bisa hadir “

 Sekali lagi terima kasih untuk para sahabat yang sudah hadir memberikan solusi, semoga Allah berikan keberkahan dan berikan ganti yang lebih baik. Doakan saya beserta tim Emeno bisa meneruskan kebaikan-kebaikan para sahabat ini ke dalam estafet kebaikan lainnya. Sejauh ini, usaha kecil ini punya target yang tidak muluk-muluk. Membuat produknya bermanfaat dan menjadikan usaha ini berkah serta menjadi ladang untuk mencari rezeki bagi orang lain rasanya sudah cukup. Lalu ketika tahu di kemudian hari para sumber daya manusianya bisa sejahtera dan menaikkan taraf hidupnya, itu sudah menjadi loncatan yang membahagiakan. Apalagi 2 staf andalan Emeno yang bekerja sejak mereka lulus SMK, saat ini sudah meneruskan kuliah dengan biaya dari gaji mereka sendiri.

 Pamit dulu untuk melanjutkan perjalanan ke Birmingham. Mohon doanya semoga kami bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Semoga dari yang kecil ini , kami bisa berkontribusi untuk ambil bagian memajukan produk Indonesia.. :) 

IMG_20160831_165303

 

 Thank you for being pasrt of our wonderful journey (1)

 

Salam Hangat,

1 September 2016

Schipol Airport, Amsterdam, Netherland

 

Adenita

2 Comments

  1. Ina doni
    September 12, 2016

    Masyaallah mb ade mb nina,kutemukan dirimu. Barakallah ya mba…terus semangat. Senang kenal dgn mba ade dan mb nina. Salam sayang dr kami

    Reply
    • Adenita
      September 15, 2016

      Masya Allah, mbak Ina.. senangnya dimampirin blognya sama mbak Ina. Ah, kami yang senangs ekali bisa ketemu dengan mbak Ina yang baik hati ini di belahan bumi lain. Terima kasih atas segala kebaikannya ya, mbak Ina :*

      Reply

Leave a Reply