» Archive for March, 2012

Undangan Launching 23 Episentrum

Here we go.. :)

Bagian Belakang

Bagian Depan

Read More

Meneruskan Kesempatan

1 Maret 2008. Saya masih ingat benar suasana hari pertama dibulan Maret itu. Itu adalah bulan kedua saya berada di Bandung kembali setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan saya sebagai reporter di Astro TV.
Waktu itu kalau ada yang bertanya apa pekerjaan saya setelah keluar dari kantor? Saya menjawab bahwa saya sedang menulis buku. Sebagai freelancer,  untuk menyambung ‘nafas’ saya tetap menerima tawaran menjadi MC atau moderator atau apapun yang bisa saya kerjakan sambil merampungkan tulisan yang sama sekali belum jelas bentuknya itu. Meskipun saat itu saya bukan penyiar lagi. tapi saya selalu merasa senang setiap kali ada tawaran untuk memandu acara, rasanya seperti ada sebuah hasrat yang tersalurkan.

Dan Hari itu, Sabtu 1 Maret 2008, saya diminta menjadi moderator untuk acara himpunan Mahasiswa ITB , sebuah talkshow mengenai penulisan ruang teater Barat kampus ITB.
“Tapi kami nggak punya budget,Mbak.. Apa mbak mau membantu kami? ”

Waktu itu, Kalau mau berpikir profesional, tentu pekerjaan semacam ini sudah tidak masuk dalam hitungan saya. Masa-masa mengumpulkan pengalaman atau portofolio dari publikasi acara sudah lewat. Apalagi status saya sudah jelas, baru mengundurkan diri dari kantor dan tabungan pun angkanya tipis.

Tapi saat itu, entah ada dorongan darimana saya mengangguk setuju. Alasan pertama, saya memang tidak ada agenda penting dihari itu. Kedua, saya butuh untuk mencari ruang inspirasi. Ketiga, saya pikir waktu dan tenaga saya akan bermanfaat buat orang lain dan saya yakin mendapatkan manfaat dari acara ini, apalagi temanya seputar penulisan. Sambil menyelam, saya bisa minum air sampai kembung, hehe

Narasumber talkshow sore itu adalah penulis buku 5 CM , Donny Dhirgantoro dan Farida Susanty penulis buku Dan Hujan pun berhenti. Keduanya adalah penulis dari penerbit Grasindo yang bukunya masuk dalam jajaran penjualan terbaik. Sudah menjadi kebiasaan sebelum memandu acara, sesaat belum acara dimulai, biasanya saya suka ngobrol-ngobrol dulu dengan narasumber, tapi kali itu tidak bisa saya lakukan karena Donny datangnya sangat mepet dengan acara. Kami hanya sempat saling menyapa dan saya menyampaikan poin-poin yang akan ditanyakan dalam acara.

Acara dimulai. Saya pun sudah duduk dipanggung dan memanggil narasumber lainnya. Saya melihat kursi hampir terisi penuh, mungkin ada sekitar hampir 200 orang dalam ruangan itu. Obrolan hangat sore itu seputar penulisan mengalir. Donny dan Farida adalah perpaduan narasumber yang unik. Farida kala itu masih jadi mahasiswa, gaya bertuturnya lucu sekali dan penuh dengan spontanitas. Sementara Donny cenderung terkesan memberikan jawaban yang nyeleneh dan membuat yang hadir senyum-senyum gemes. Obrolan sore itu dibanjiri pertanyaan hingga panitia terpaksa harus berulang kali memperingatkan saya untuk menyudahi acara.

Ketika acara selesai, banyak  mahasiswa mendatangi para penulis untuk sekedar ngobrol langsung atau meminta tanda tangan di bukunya. Saya melipir ke back stage, sambil bersiap mau pulang. Tapi sebelumnya saya menunggu kedua narasumber saya tadi untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Saat saya sedang menikmati kue kotak yang disediakan panitia, saat itulah laki-laki bertubuh gempal yang dibalut baju serba hitam itu datang menghampiri.

“Eh, bagus deh tadi ngebawain acaranya..lo kayanya MC terbaik sepanjang gue diundang acara talkshow kampus deh..nanti gue rekomendasiin sama penerbit gue ah kalo ada acara buku lagi” saya mengucapkan terima kasih dan tersipu mendengar komplimennya, ehm…

Obrolan kami pun berlanjut soal buku dan lain-lain, hingga Donny akhirnya bertanya apa kesibukan saya saat ini. Saya ceritakan tentang yang saya lakukan dengan singkat.

“Jadi lo cabut dari kantor buat nulis buku? Buku lo tentang apaan?”

Dan saya pun kembali menceritakan apa yang sedang saya tulis, semacam sinopsis singkat. Dan diluar dugaan Donny menyimak.

“Eh, bagus tuh cerita lo.. belom pernah ada, cerita lo orisinil.. itu nilai jual banget buat jadi novel. Udah dapet penerbit?”

Saya menggeleng “Selesai juga belom..” kata saya sambil cengar-cengir.

“Gini deh.. nanti gue kenalin sama penerbit gue, siapa tahu dia tertarik”

Aha! Mata saya berbinar. Beberapa waktu lalu saya memang sempat membongkar kontak dan mencari penerbit, rencananya akan saya hubungi setelah apa yang saya tulis itu sudah mulai berbentuk.tapi sore itu rasanya saya baru saja dipertemukan dengan pintu kesempatan lewat orang yang baru saya kenal. Tapi, saya nggak mau ge-er dulu, orang didepan saya ini adalah penulis yang sudah sering ketemu orang banyak dan pasti sibuk. Seminggu dua minggu lagi bisa jadi dia lupa sama saya. Jadi ya, saya juga nggak banyak berharap, selain bertukar kontak , buat saya itu sudah cukup. Tapi pertemuan sore itu rasanya menjadi bahan bakar buat saya menyelesaikan tulisan yang masih sangat berantakan dan belum tahu akan saya namakan apa.

3 minggu setelah pertemuan itu, disaat semangat saya mulai turun dalam mengerjakan ‘buku impian’ saya, tiba-tiba sebuah sms masuk.

“Halo Adenita, saya Ariobimo editor di Grasindo, katanya lagi nulis buku ya? Kapan selesainya?”

Mata saya membesar. Saya hampir lupa bernafas. Tidak percaya apa yang saya baca. Saya baca berulang-ulang sampai saya mampu untuk membalasnya. Saya tidak menyangka Donny benar-benar merekomendasikan saya pada penerbitnya, bukan hanya sebagai pemandu acara, tapi tentang cerita yang sedang saya buat. Disaat itu, saya tahu cerita dari komunitas penulis di Bandung betapa sulitnya mencari penerbit yang mau menerbitkan karya para pemula. Ada yang menunggu hingga berbulan-bulan bahkan tahunan, ada yang ditolak berkali-kali dan harus mengirimkan ke banyak penerbit, dan terus menanti dan menanti. Saya, si pemula ini malah didatangi oleh penerbit. Buat saya tentu saja ini sebuah anugerah besar.

Sejak sms itu, saya akhirnya jadi merasa punya janji dengan orang lain untuk menyelesaikan draftnya dan akhirnya saya kembali bekerja dengan target. Ditengah itu, saya sempat bertemu Donny kembali untuk ngopi-ngopi sore disekitar kantor Gramedia Bandung. Sambil bercanda dia sempat bilang “Jangan ketemu gue dulu sebelum buku lo beres”. Saya tertawa sambil mikir, orang ini ini sudah merekomendasikan saya, saya harus bisa memegang kepercayaannya. Target pun dimulai, akhir April 2008 apa yang saya tulis harus sudah beres.

24 April 2008, saya benar-benar datang langsung ke kantor Grasindo untuk menyerahkan draft novel saya yang saya beri judul 9 Matahari. Draft novel yang sudah di print sebanyak lebih dari 450 halaman itu saya bungkus dalam amplop besar berwarna coklat, saya serahkan langsung pada mas Ariobimo. Setelah itu, waktu pun berjalan dengan cepat.

Draft buku 9 Matahari

 

8 November 2008. Novel pertama saya 9 Matahari dirilis. Dalam acara launching di Auditorium SBM, ITB. Donny hadir menyaksikan wujud cerita yang pernah saya sampaikan 8 bulan lalu. Ungkapan Terima Kasih rasanya tidak cukup. Saat melihat Donny, saya Cuma berjanji dalam hati. saya akan meneruskan kebaikannya. Saya ingin menjadi orang yang bisa meneruskan kesempatan dan kepercayaan yang pernah saya dapatkan. Dalam hal ini adalah soal menulis dan menerbitkan buku. Itulah kenapa saya senang sekali ketika ada teman-teman yang sering menyatakan punya cerita bagus untuk dibuat buku. Saya selalu menyemangati dan kalau bisa menjembatani mereka untuk bertemu dengan pihak penerbit. Paling tidak, saya memfasilitasi orang yang berusaha. Selanjutnya, biarlah alam yang bersinergi dengan usahanya.

Rekomendasi. Ini bukan soal sekedar memberi informasi, ini soal memberikan kepercayaan, meneruskan kesempatan. Kesempatan yang bisa mempercepat langkah orang lain atau membawa orang itu ketempat tujuannya. Pemberian yang begitu besar yang rasanya tidak cukup bisa diwakili oleh ucapan terima kasih dalam bentuk apapun. Pemberian ini buat saya semacam tongkat estafet yang harus diteruskan. Ia tidak boleh terputus selama masih ada kehidupan. Seperti,Alam semesta ini yang terus berjalan karena ada rantai memberi yang tidak pernah terputus.

Empat tahun lalu saya mengenal Donny. Tak perlu saya sebutkan pada siapa estafet kepercayaan itu saya berikan. Tapi saya yakin, siapapun yang menerimanya, ia akan mau meneruskan semangat dan energi itu pada orang lain. Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika melihat orang lain sudah mencapai tujuannya dan melambaikan tangan pada kita..”saya sudah sampai”

 

“Seseorang yang merasa sudah melakukan pencapaian dalam hidupnya, biasanya akan terus bersemangat untuk melakukan pencapaian lainnya. Tularkan energimu… energi besar yang kamu miliki. Hidupkan impian orang lain, bangunkan dari mati suri…. Jangan biarkan dia mati!” (Dikutip dari buku 23 Episentrum- Adenita)

 

Kepala paling belakang ini adalah kepalanya Donny, kami tidak sempat berfoto bersama :D

 

4 Tahun lalu

*Sebuah Tulisan Untuk Donny Dhirgantoro. Terima Kasih telah memilih saya untuk meneruskan kesempatan itu. Terus berkarya, Brader.. ;)  

 

 

Read More

Menunggu Kelahiran Karya Baru

Sudah bulan Maret..  Rasanya tidak sabar menunggu kelahiran 23 Episentrum. Menunggu launching, menunggu apresiasi pembaca, dan menunggu untuk memegang dan mendekap buku ini dengan jari-jari saya yang sudah bekerja keras. Semoga saja hasilnya berkenan untuk pembaca. Tidak ada karya yang sempurna, tapi paling tidak selalu dikasih kesempatan  untuk menyempurnakan sebuah karya :)

 

 

Can't wait to hold it! ;)

Read More