» Archive for September, 2011

Ketika Tongue Tie Mengintai

Cerita Tongue Tie ini sebenarnya sudah pernah dimuat di blog lama saya, juga di www.theurbanmama.com, Tabloid Mom and Kiddie edisi Juni dan Toddie Magazine edisi bulan Juli 2011.

Cerita saya waktu itu mendapatkan respons yang luar biasa. Dokter Asti Praborini bilang, cerita saya di blog pada waktu itu sangat membantunya untuk menjelaskan pada orang yang masih awam tentang Tongue Tie. Bahkan pasien lamanya yang ‘kabur’ karena dideteksi Tongue Tie dan seharusnya diambil tindakan , kembali berdatangan.

Senang rasanya pengalaman Tongue Tie pada Oza bisa bermanfaat untuk orang lain. Karenanya cerita ‘Ketika Tongue Tie Mengintai’ saya posting ulang disini. Semoga bisa memberi manfaat dan memberikan semangat untuk para Ibu menyusui dalam memberikan ASI Ekslusif untuk si buah hati.. =)

***

21 Februari 2011 lalu adalah hari yang mengantarkan saya menjalani status baru sebagai seorang ibu. Saya melahirkan Oza, bayi perempuan yang lucu dengan berat 3.18 kg dan panjang 48.5 cm. Peran, tanggung jawab, rutinitas, semua serba baru.  Rasanya lega saya bisa melewati proses persalinan normal meski dengan induksi. Jangan ditanya sakitnya seperti apa. Tapi, rasa sakit itu terbayar begitu melihat proses IMD yang menakjubkan..

Saatnya Hadiah Itu Diberikan
Banyak orang yang bilang, bahwa asi adalah hadiah terindah dari ibu untuk anaknya. Sejak masa kehamilan, saya memang sudah bertekad untuk memberikan asi ekslusif pada anak saya dan berusaha mengedukasi orang-oramg terdekat terutama suami. Syukurnya, suami saya juga sangat bersemangat mendukung pemberian asi dan rajin sekali mencari tahu atau bertanya seputar asi. Dengan berbekal pengetahuan yang saya dapat dari kelas edukasi Basic Breast Feeding dari AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia)* dan aneka informasi seputar asi baik dari milis, artikel, buku, dan sumber-sumber lainnya, saya merasa percaya diri dan bersemangat untuk memberikan ASi Ekslusif (ASIX), hadiah untuk si kecil Oza. Itulah kenapa saya tidak panik ketika hari pertama asi masih berupa kolostrum, saya juga tenang menangani hal-hal baru yang saya temukan pada bayi yang baru lahir. Tapi ternyata, pengetahuan si ibu baru ini memang belum mumpuni..

Minggu pertama menyusui rasanya berjalan lancar. Agak sedikit sakit dan Puting lecet, ah itu sih biasa! Namanya juga ibu baru.. begitu pikir saya dan kata setiap orang yang mengunjungi saya. Namun hari demi hari, kepercayaan diri dan semangat saya serasa menyusut, karena lecet di puting saya makin parah, payudara menjadi bengkak , padahal Oza selalu saya susui. Sementara   di minggu pertama, sakit & lelah paska melahirkan rasanya belum selesai. Keadaan ini sungguh sangat menyiksa saya, begini ya rasanya jadi Ibu .. bathin saya waktu itu. Seorang teman berseloroh, “ di nikmatin aja.. atas lecet, tengah mules, bawah cenat-cenut, yah begitulah rasanya ..” saya hanya tersenyum sambil meringis membenarkan perkataannya.

Minggu kedua, keadaan tidak berubah, malah semakin parah. Oza seperti orang yang tidak kenyang dan sering menangis. Meski saya tahu, bayi menangis bukan karena ia lapar & haus, tapi karena memang itu adalah bentuk komunikasinya. Tapi pertahanan saya menjadi sangat lemah ketika orang rumah atau para tamu yang datang menjadi heboh setiap kali mendengar Oza menangis setelah disusui dan akhirnya menyangka asi saya kurang. Meskipun wajah saya bertahan menujukkan keyakinan bahwa Oza cukup dengan asi yang diberikan tapi entah kenapa hati saya menjadi was-was.

Keadaan diperparah dengan kondisi saya yang demam. Untunglah suami saya sudah membelikan saya breast pump dengan harapan saya bisa memompa asi ketika Oza tidur. Asi perah (ASIP) saya waktu itu sekitar 80ml, saya lalu mencoba mengajarkan Oza minum asi menggunakan sendok, Alhamdulillah dia mau, anak pintar! Dan saya harus bersyukur, karena cara ini cukup membantu saya ketika akhirnya saya tumbang karena di dera demam selama 7 hari berturut-turut!

Belanjaan si Ayah baru untuk mendukung ASIX

Demam bermula di hari ke-9 , awalnya hanya demam ringan. Tapi ketika masuk hari ke-13, tiba-tiba saja saat itu ujung puting saya seperti terkena sengatan listrik , lalu seketika tubuh saya menggigil dan suhu tubuh saya meningkat sampai 39 derajat. Hal itu terjadi berulang-ulang, pagi, sore dan tengah malam. Semua menduga itu dari lecetnya payudara saya, tapi Karena demam yang terus berlanjut, orang rumah saya menduga itu karena infeksi dari jahitan, lalu dari bergesernya rahim karena saya tidak mau pakai kain dan dugaan-dugaan lainnya yang semakin bikin saya stress.

Saya sempat ke dokter umum dan jika demam terjadi selama tiga hari bertutur-turut, saya diminta periksa darah. Tiga hari  kemudian hasil periksa darah menunjukkan hasil yang bagus. Analisa dokter, saya terkena Viral Syndrome atau demam yang disebabkan oleh virus, bisa jadi karena luka yang ada di puting saya. Obat penurun panasnya hanya diberi panadol biru. Kalau sampai 7 hari saya masih demam, saya diminta datang kembali.
Pada saat itu, rasanya menyusui berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Rasa sakit yang menjalar ketika latch on, sungguh luar biasa. Saya bahkan selalu keluar keringat dingin setiap kali mau menyusui.  Dan rasanya deg-degan setiap kali mendengar suara tangis Oza karena terbayang rasa sakit dan nyeri yang akan saya hadapi. Bahkan ada disatu hari saya berada di titik puncak rasa sakit yang luar biasa dan saya pun menangis tidak mau menyusui karena tidak kuat menahan sakit. Tapi itu hanya berlangsung beberapa jam, karena akhirnya saya terus memaksakan diri untuk melawan rasa sakit itu.

Saat itulah ASIP saya berguna. Memang rasanya tidak tega melihat Oza dikasih asi dengan sendok sementara ada saya didekatnya, tapi pada saat itu dengan kondisi saya yang di dera demam, rasanya saya berada diambang tega nggak tega. Anehnya, walaupun menyusu lama hampir satu jam dan sudah minum ASIP, Oza seperti orang yang belum kenyang. “ya begitu , namanya juga bayi , menyusu terus ..” begitu kata orang-orang.

Belajar pertama kali pake sendok di hari ke-10

Aneka tips saya jalankan. Menyusu di payudara kanan, payudara kiri di pompa atau diperas. Tapi ASIP saya makin hari keluarnya makin sedikit. Ditengah kondisi fisik dan mental saya yang seperti kehabisan batere, selama 3 hari saya sempat mendapatkan  bantuan donor ASIP dari seorang teman kantor kakak saya sebagai tambahan asi untuk Oza. Untunglah kakak saya itu bergaul dengan para ibu yang pro asi, jadi ia bisa membantu menjelaskan hal-hal seputar pemberian asi ekslusif dan hal yang mungkin oleh orang rumah dianggap tidak lazim, seperti pemberian asi donor.

Hari-hari saya terasa melelahkan karena sambil demam saya juga harus menyusui . Bibir saya tiba-tiba tidak bisa mengembangkan senyuman. Disela-sela itu saya terus berkonsultasi dengan beberapa teman yang menyusui. Saya lalu menghubungi kenalan baik saya, seorang konselor ASI (Amanda Tasya — Ka. Div. Advokasi AIMI) . Saya berkonsultasi langsung dan di edukasi lagi seputar anatomi payudara, asi, dan beberapa posisi menyusui yang bisa saya coba untuk meminimalisir rasa sakit. Satu hari itu sakit saya terasa berkurang. Yang pasti, saya tidak mengalami mastitis. Tapi besoknya demam kembali mendera..duh!

Pikiran saya terus berputar. Posisi bayi saat menyusu dan pelekatannya sudah benar, areola sudah  masuk semua ke mulut bayi, perut bayi ketemu perut saya, dagu bayi menempel, pipi menggembung, ok ..rasanya semua sudah sama dengan prosedural posisi yang  benar bayi  menyusu. Lalu apa? Dalam kondisi seperti itu saya menjadi sensitif dan emosional, karena saya merasa bodoh tidak bisa menyusui, hanya tahu teori. Apalagi mendengar cerita seorang teman yang baru saja melahirkan dan tidak mengalami masalah dalam menyusui.

Tongue Tie
Masuk hari ke-17. Saya bertekad harus menemukan solusi atas permasalahan yang saya hadapi. Kebetulan saat saya periksa darah di RSIA Kemang Medical Care, saya melihat ada klinik laktasi. Hari itu saya datang bersama Oza ke klinik laktasi dan bertemu dengan dr. Aini .

Tempat penting terkuaknya Misteri Tongue Tie .. =D

“Kenapa  baru datang kesini setelah parah, Bu? “ begitu komentarnya  ketika melihat puting saya yang bukan lagi lecet, tetapi bolong seperti bentuk kawah di gunung.
Dokter Aini lalu mencoba menguraikan permasalahan saya. Dia melihat posisi menyusui saya“Sudah benar koq , Bu..” . Lalu perhatiannya langsung tertuju pada lidah Oza.

Dan, terkuaklah misteri itu, lidah Oza ternyata pendek alias Tongue Tie. Hal ini membuat lidah Oza tidak bisa keluar garis bibir. Lidahnya tidak bisa ‘bermain’ saat menyusui, sehingga fungsinya untuk memompa payudara saat menyusu tidak berjalan dengan baik. Proses menyusui jadi tidak sempurna. Akibatnya, laju berat badan bayi dan pertumbuhannya terhambat. Tongue Tie juga bisa berpotensi menyebabkan anak menjadi cadel .

Sementara akibat yang terjadi pada Ibu, ya salah satunya seperti yang saya alami ini. Tergantung dari tipe Tongue Tie nya, Tipe Tongue Tie Oza ternyata adalah tipe satu yang merupakan Tongue Tie yang parah. “Untung ibu nggak sampe pingsan karena kesakitan ya.. “ saya cuma bisa meringis mendengar ucapan si dokter yang juga ternyata punya pengalaman yang sama dengan saya. Jadi selain menjelaskan dari sisi medis, dia juga berbagi pengalamannya kepada saya saat anaknya diketahui Tongue Tie yang kadangkala sulit untuk di deteksi oleh orang awam.

Solusinya adalah bagian tali bawah lidah (Frenulum linguistic) Oza harus di incisi atau digunting.  Rasanya ngeri membayangkan hal itu dilakukan pada bayi 17 hari, tapi justru makin muda usianya akan semakin baik. Bahkan anak dr. Aini itu di incisi saat usianya 2 hari. Jaringan darah di area itu sedikit jadi tidak akan terjadi luka yang berarti.  Atas persetujuan suami, saya setuju untuk dilakukan tindakan medis itu pada Oza. Lalu saya disarankan untuk bertemu dengan dr. Asti Praborini *.

Besoknya saya kembali datang ke RSIA KMC dan bertemu dengan dr. Asti Praborini. Setelah dijelaskan panjang lebar tentang Tongue Tie dan menandatangani persetujuan tindakan medis, Oza pun di tangani oleh dr. Asti.
“Ibu tenang aja, prosesnya lebih cepat dari menindik telinga bayi.. dan bisa langsung di uji coba pada ibu” begitu katanya.

Saya diminta duduk dengan dada terbuka dan Oza sudah pasrah bersama dokter dan suster. dan ternyata memang proses incisi berlangsung sangat cepat dan tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Hanya sekitar 3 menit dan ketika Oza menangis, sang dokter dengan cekatan langsung memasukkan mulut Oza di payudara saya. Ajaib! saat itu saya tidak merasakan sakit seperti biasanya. Oza langsung menyusu dengan lahap, kali ini rasanya berbeda sekali. Mulutnya Oza dan puting saya seperti lebih klop dari sebelumnya. Proses menyusunya pun tidak selama biasanya yang sampai 45 menit bahkan satu jam. Sekitar 20 menit dan Oza langsung melepaskan puting sendiri, tidak dilepaskan paksa oleh saya karena menyusu terlalu lama hingga saya kesakitan seperti hari-hari kemarin.

Paska incisi, Oza menyusu terus menerus. Frekwensi menyusunya meningkat tajam. Kata dokter hal ini normal, karena bayi akan belajar lagi dari awal cara menyusu yang benar dan Bekas lukanya yang kelihatan seperti sariawan kecil itu memang harus terpapar asi. “Pokoknya ibu sekarang ini nggak ada kerjaan lain selain nyusuin..ibaratnya, harus siap jadi sapi perah” , saya cuma cengar-cengir mendengar titah sang dokter.

Proses menyusui mengalami perubahan, saya sudah bisa tersenyum kembali. Tapi masalah si ibu baru ini belum selesai. Karena paska Incisi, berat badan Oza sempat turun hampir 200 gram. Duh, apalagi yang salah ya? Masalah ditemukan ketika pada kunjungan berikutnya dokter Asti bertanya, “Anak ibu tidur bareng Ibu ,  kan? “
Saya menggeleng, “ tidurnya di box bayi , Dok”

Ternyata saya melakukan sesuatu yang saya anggap nggak ada hubungannya dengan hal ini. Jadi paska incisi Tongue Tie, saya harus sesering mungkin bersama Oza dan tidurpun harus bareng. Harus sering-sering kelonan, begitu katanya. “Pokoknya ibu menyusui bayi dengan mesra, kaya orang pacaran..” dokter Asti juga menganjurkan untuk sebisa mungkin menyusui dengan suasana tenang, tidak menyusui sambil menonton tv, lampu dibuat remang, pokoknya ekslusif hanya berduaan antara si ibu dan bayi.

Saat itu, untuk mengejar produksi asi, saya sempat menjalani program relaktasi  dan kembali mendapatkan bantuan donor asi untuk 5 hari. Jadi di minggu ke-5 , Oza mengejar berat badannya untuk cepat naik kembali dan dan saya mengejar produksi asi supaya kualitas dan kuantitas asinya semakin bagus. Puting saya yang bolong itu pun berangsur-angsur tertutup dan membaik. Sekarang berat badan Oza naik pelan-pelan.

Setelah masa suram Tongue Tie itu lewat dan saya sudah fit kembali, saya baru sempat googling dan mencari informasi lebih banyak tentang Tongue Tie. Saya bersyukur saat dimana saya tidak sempat lagi mencari informasi lebih banyak, saya telah dipertemukan dengan orang-orang yang tepat untuk membantu dan menangani hal ini. Dan, sekarang saya mengerti kenapa salah satu faktor terpenting dalam kesuksesan pemberian asi ekslusif adalah dukungan dari orang terdekat. Dalam hal ini, saya sangat merasakan peranan dan dukungan suami yang begitu besar berada di garda depan dan di ikuti keluarga. Hal ini sangat penting untuk menghibur dan membesarkan hati ketika bertemu dengan orang-orang yang akan membuat pertahanan menjadi goyah di masa awal terjadinya masalah menyusui pada Oza. Godaan buat murka selama masa itu rasanya besar sekali setiap kali mendengar komentar-komentar yang menyebalkan. “Aduh, anaknya badannya kurus banget.. kurang asi ya, kasih dot aja.. ini anak kurang gizi kali ya.. kalo  nggak kenyang tambahin susu formula aja..” dan kalimat-kalimat lainnya yang bisa bikin tabung gas elpiji 12 kg meledak. Memang tidak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk meredam amarah kecuali sabar. Pantas kalau ada yang bilang, ketika menjadi ibu maka ambang batas sabar makin lama akan makin besar. Saya begitu salut kepada para ibu yang berjuang untuk tetap memberikan asi ekslusif dengan kondisi apapun. Berterima kasih yang tak terhingga dipertemukan dua ibu pendonor asi yang begitu murah hati memberikan cinta dan semangat asinya kepada Oza. Semangat berbagi dan kebaikan mereka sangat menginspirasi asi saya untuk berbagi dengan cara apapun kepada sesama ibu menyusui.

Si Ayah yang selalu memberikan dukungan ASIX

Baru belakangan saya tahu, bahwa ternyata masalah Tongue Tie ini banyak terjadi di sekitar saya, hanya tidak diketahui dengan cepat karena mungkin tidak familiar. Bahkan beberapa pasien dokter Asti yang sempat mengobrol dengan saya di ruang breastfeeding bercerita kalau sebelumnya ia sudah datang ke dokter spesialis anak dan dinyatakan tidak ada masalah pada sang anak. Namun karena sang ibu penasaran, maka ia mendatangi klinik laktasi dan barulah diketahui penyebab sakitnya saat menyusui.

Dari informasi yang saya tahu, untuk Tongue Tie tipe 3 dan tidak terlalu parah, memang si ibu tidak akan mengalami seperti apa yang saya alami. Namun, bayi hanya menyusu sebentar dan seperti kesulitan latch on. Lalu si  ibu menyangka bayi tidak bisa atau tidak mau menyusu pada ibu.  Akibatnya, bagi para ibu yang minim informasi mengenai hal ini akan memperpendek jangka waktu pemberian asi dan akhirnya mempercepat pemberian susu formula pada anak.

Beruntunglah saya dan para ibu di zaman sekarang yang memiliki akses informasi yang begitu terbuka lebar. Jika merasa ada sesuatu yang ganjil, lebih baik segera bertanya dengan ahlinya ketimbang menduga-duga atau menggunakan pengalaman orang lain yang belum tentu cocok dengan masalah yang sedang dihadapi. Tentu dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada para ibu-ibu pendahulu, orangtua kita yang rajin memberi nasehat. Bisa jadi nasehat atau solusi yang dulu pernah dipakai itu benar, tapi mungkin saat ini sudah tidak relevan lagi dengan zamannya. Dan, begitu kita memiliki informasi dan pengetahuan terbaru, jangan lupa juga untuk segera mengedukasi mereka agar sesuatu yang baru itu bisa ditransfer kembali.

Sekarang proses menyusui Oza terasa sangat menyenangkan. Kepercayaan diri saya sebagai si ibu baru kembali melambung. Terima kasih Oza yang sudah memberi pengetahuan dan pengalaman baru kepada orangtua baru ini.. =)

Aku sudah tidak Tongue Tie lagi .. =)

Oza & Bunda kembali Ceria

Alhamdulillah, Oza sekarang sudah lulus S1 ASIX =)

 

Salam ASI With Love,
Adenita
contact :
miss.adenita@gmail.com
Twitter : @adenitaa

**Rekomendasi Konsultasi Laktasi :
1.    dr. Aini bisa ditemui sesuai perjanjian di Klinik Laktasi RSIA Kemang Medical Care (KMC)
2.    dr. Asti Praborini, SPA, IBCLC . Dokter spesialisasi anak dan konselor laktasi ini selain praktek di RSIA KMC juga praktek di RS Puri Cinere.
3.    Asosisasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) juga membuka konsultasi laktasi bersama para konselornya , bisa datang ke kantor di  atau home visit.

Read More

Cerita kacamata layak pakai

“Bun, tolong ambilin kacamata..”

“Yang mana?”

“Yang framenya coklat”

***

Obrolan semacam ini kerap terjadi setiap kali dimintain tolong ambil kacamata suami saya, Agung. Gara-gara melihat  kacamata  Agung yang berderet 4 biji dimeja, saya bertanya ,  “Kacamata yang dipake sebenarnya yang mana sih ?”

Agung: “Yang terbaru, soalnya minusnya nambah jadi 4”
Saya    : “Jadi yang lama nggak kepake ?”
Agung : “Nggak”

Saya : “Terus mau diapain kacamata bekasnya?”

Agung : …. Mikir.. nyengir dan akhirnya bilang, “nggak tahu”

Gimana kalo yang nggak kepake disumbangin aja ? Agung setuju kacamata bekasnya yang masih layak itu untuk disumbangkan. Cuma dia bertanya, apa ada yang mau nerima kacamata bekasnya? Pasti ada! Saya menjawab cepat.

Baju, buku dan barang bekas lainnya aja banyak yang masih membutuhkan. Apalagi kacamata, kaca yang bikin penglihatan tambah terang untuk baca dan melihat dunia.

Niatnya saya mau mendatangi sebuah tempat di Bandung yang saya yakin banyak yang perlu, hanya saja saya sekarang belum berkesempatan untuk pergi kesana karena ada si kecil. Sebenarnya saya terpikir sebuah hal yang kecil tapi mungkin punya manfaat besar seputar kacamata bekas , tapi sekarang ini karena saya belum sanggup mengalokasikan waktu dan mengeksekusinya, jadi saya belum berani bercerita banyak

Nah, sementara saya posting disini aja informasi tentang cerita dua kacamata ini.  Barangkali kalo ada informasi orang yang kurang mampu disekitar yang butuh kacamata sesuai dengan yang saya miliki, sila langsung hubungi saya .Dengan senang hati juga kalo mau diteruskan informasinya =)

Btw, jadi mau tanya, kacamata bekasmu yang masih layak biasanya dikemanain?

Kanan-Kiri minus 3.5

 

Kanan-Kiri minus 3.00

Read More

Menemani’talent’ Bermain didepan Kamera

Selasa 20 September 2011 kemarin, Oza kembali ditawarin jadi talent untuk program built in(iklan dalam cerita) untuk sekali tayang di acara Diary Bunda. Kali ini produknya Konicare natural Liquid Powder.  Profile product masuk di sela cerita si Bunda tentang Hypnoparenting saat anak mulai belajar merangkak.

Yang menarik, awalnya begitu saya dapet script dari orang PH, saya mendapatkan scriptnya tentang membangun komunikasi anak melalui menonton televisi. Saya agak kurang setuju, lalu saya berdikusi dengan salah satu crewnya, mbak Ririn. Saya hanya sharing menurut pengetahuan yang saya tahu dan ‘paham’ yang saya anut, membangun komunikasi dengan anak yang terbaik menurut saya adalah melalui membaca buku. Karena selain menanamkan budaya baca anak dari kecil, anak diajak mendengarkan dengan fokus, dia bisa lebih peka, dan juga bisa  berimajinasi. Dalam tataran budaya pun seharusnya memang budaya baca dulu lalu  budaya menonton. Sila cari sendiri informasi yang terkait dengan hal ini.

Dan yang saya lakukan sejak Oza lahir, saya selalu membacakan cerita dari buku-buku anak yang ada dirumah. Kebetulan saya suka membeli buku anak dan saya simpan kalau-kalau ada keponakan datang untuk bermain bersama. Kali ini, buku itu akhirnya bisa dibacakan untuk anak saya. Walaupun mungkin Oza belum mengerti, tapi saya meyakini ada saraf-saraf yang terbangun di otaknya ketika mendengar ibunya berbicara, bercerita ini dan itu. Saya pernah baca mendongeng atau bercerita pada anak bisa mengaktifkan simpul saraf  pada otaknya. Banyak informasi yang didengar membuat otak anak bisa menjadi lebih aktif, mungkin semacam senam otak. Kabarnya, hal ini berpengaruh besar pada kecerdasan emosinya. Mungkin hasilnya memang belum bisa terlihat sekarang saat masih bayi, tapi saya sepakat bahwa hal ini bisa dibangun saat masa pertumbuhannya.

Terlepas dari kelebihan bercerita atau mendongeng pada anak, saya memang melihat Oza di umurnya yang belum 2 bulan saat itu, terlihat sangat responsif . Kata orang-orang, matanya hidup ketika diajak bicara. Sisanya, saya memang menganut ajaran nonton tv hanya seperlunya. Dan , mencoba membiasakan hal itu pada Oza. Mungkin masih terlalu kecil, masih belum ngerti, begitu kata orang-orang. Tapi buat saya, kebiasaan itu dibangun bukan dalam satu malam. Bisa karena  biasa.

Ikutan bunda baca koran

Dengerin bundanya cuap-cuap baca buku

'Diculik' ke toko buku pertama kali saat usia 2 bulan.. =D

Ternyata, saran saya didengar oleh crew PH-nya. Jadilah adegan syuting hari itu bukan adegan saya menonton tv dengan Oza, melainkan adegan sedang bermain sambil saya membacakan buku, bercerita, bernyanyi, seperti layaknya hari-hari kami dirumah. Ah, senangnya..

Oya, syuting hari ini bisa dilihat hasilnya di acara Diary Bunda, Sabtu 24 September 2011 jam 8.30 WIB di Anteve . Nonton ya ..  ? ;)

 

Abis main , usap-usap dulu pake Konicare Liquid Powder .. =P

 

Oza in action!

 

Read More

Surat untuk Oza, si Sarjana ASIX

Usiamu menginjak 6 bulan saat Ramadhan datang. Ratusan hari kemarin Kamu hanya bergantung padaku, untuk melepas dahaga dan menuntaskan laparmu. ASI. Cairan ajaib yang menumbuhkan tubuhmu, mengobati sakitmu dan menentramkan hatiku.

Mari sayang, kita berterima kasih kepada Sang Maha Pencipta, yang telah mencipta dan mencukupimu dengan makanan terlezat dan terhebat didunia. Kamu tahu, betapa canggihnya proses pembuatan makananmu yang diolah oleh mesin dalam tubuhku? Mesin itu bekerja dengan bahan bakar semangat dan keikhlasan hingga keluar menjadi tetesan yang membentuk sel demi sel dalam tubuhmu.

Formula rahasia yang tidak bisa ditiru oleh tangan manusia. Produk susu terhebat sepanjang zaman. Bahkan Nabi kita pun meminum cairan yang sama. Air Susu Ibu. Dibuat Ekslusif khusus untukmu. Dan tahukah kamu, siapa orang yang berperan besar dalam pemberian asi ekslusifmu ? Ayah!

Ayah memang tidak seperti aku yang ada terus menerus bersamamu. Tapi Ayahlah orang pertama yang menyambutmu saat kamu melihat dunia dan merangkak didadaku. Sabar ia menanti gerakmu untuk menyusu. Sambil ia lantunkan adzan ditelingamu dengan khusyuk.

Malam kami tak lagi sama. Suara tangismu pecah saat mata belum lagi terpejam. Saat lelah menyergap dari segala penjuru, godaan seakan menyerbu. Botol-botol itu seperti menanti untuk mengganti. Tapi ayah menjadi juru bicara , dengan lantang ia katakan bahwa kamu hanya akan minum susu, dari aku. Banyak tatapan ragu, tapi ia tetap menatapku untuk maju.

Masih lekat dalam ingatanku, bagaimana ia menumpuk bantal agar kau nyaman dipangkuanku. Agar punggungku tidak pegal dan kita berdua bisa menikmati waktu kita dengan menyenangkan. Saat lelah  mulai hinggap, ayahmu dengan lembut mengusap punggungku. Menawarkan ini dan itu. Ayah memang tidak bisa menyusui seperti yang aku lakukan, tapi dia menciptakan kenyamanan agar kita berdua bisa bermesraan hingga kamu tersenyum kenyang.

Saat senyum dan tenagaku menipis karena meringis, ia memberiku kekuatan dengan pelukannya. Pelukan terhangat yang penuh semangat.. agar yang terbaik ini tidak cepat tamat.

Dukungan dari ayah bukan slogan. Dia benar-benar memberikan fasilitas untuk kita berdua menikmati masa-masa bulan madu bersama asi. Pilihannya selalu memiliki label terbaik. Saat orang lain ribut tentang berat badanmu, ia memandangku agar tak usah ragu. Pilihan asupanmu, sudah nomer satu..

Lucu melihatnya pulang menenteng barang belanjaan yang semua isinya  keperluan kita, keperluan kamu dan aku. Keperluan menyusui. Aku masih ingat binar antusias matanya kala ia bercerita  telah mendatangi toko demi toko di pusat grosir. Tak ada gengsi , ia melakukannya dengan penuh kesadaran dan cinta, membekali dan mendukung dengan perlengkapan perang untuk perjalanan ekslusif kita. Semua terbaik dari yang ada. Ia Bertanya, membaca, mendengar, kami berdua belajar bersama tentang merawatmu.

Dari kubikel kantornya, dia tak pernah luput untuk mencurahkan perhatiannya pada kita. Perhatian. Ah,ya! Rasanya Itu lebih besar dari perhatian, lebih luas dari cinta. Perhatian itu kasta tertinggi dari memberi,Nak .. Didalamnya ada semangat,doa, energi, dan semua tercurah untukmu, dan aku.

Hanya untuk makananmu saja ayah tak ribut tentang komposisi. Meski tak ada label tertempel, tapi ia tahu benar komposisi makananmu ini adalah terbaik. Tiap tetesnya terbuat dari doa dan cinta yang segar. Tetesan yang akan menumbuhkan jutaan sel unggul dalam tubuhmu. Tidak ada yang sehebat ini, sayang ..

Ayah mungkin tidak piawai memandikanmu, mengganti popok , dan hal-hal yang biasa aku lakukan untukmu. Tapi, ia melakukan semua hal yang membuatku kuat dan bersemangat untuk memberikan hakmu sampai tamat.

Ia selalu ada membesarkan hatiku. Memberiku selamat saat melihatmu tumbuh sehat. Hari ini selamat itu bukan hanya untukmu, si sarjana ASIX. Tapi, untuk dia . Ayah hebat yang selalu penuh semangat..

Terima kasih Ayah, atas segala yang terbaik . Ini kesuksesan kita bersama. Penuh kASIh dari kami, untuk ayah ASI..

Ayah ASI, bertukar informASI

Ayah ASI selalu menemani kontrol

Bertambah setiap senti, karena ASI

Ayah ASI, juara hati .. =)

Pin ayah ASI dapet dari Om Dipa, saat HUT ke-5 AIMI

Oza, si sarjana ASIX .. =)

21 Agustus 2011,

Peluk cium,
Bunda

Read More

Kotak Baru

Akhirnya saya mencoba membuat sebuah rumah baru untuk tempat jari-jari saya menari. Sebenarnya saya masih sayang dengan blog saya sebelumnya, www.mataharikumataharimu.multiply.com , karena itu tempat pertama kali saya ngeblog. Walaupun terbilang malas untuk menulis disana, tapi rasanya senang sudah punya ‘tetangga’ yang rajin mengunjungi =)

Tempat ini masih baru buat saya, tercipta berkat bantuan seorang teman web master yang dulu menangani situs kantor saya, Andrito Wilantoro. Makasih banyak ya Onyon =)

Masih perlu ngoprek banyak nih.. masih pengen tata sana-sini. Senang punya kotak baru untuk menyimpan cerita-cerita yang terserak setiap harinya..

Terima Kasih sudah mampir =)

Enjoy! =)

Read More